Lets Search!

Facebook Connect


Showing posts with label rama. Show all posts
Showing posts with label rama. Show all posts

No Bujang Awards Buat Rama Nidji

Hari ini (07.03.2009), Muhammad Ramadhista Akbar atau sering dipanggil Rama Nidji atau Dede melepas masa lajangnya dengan menikahi Revina Anindhita. rama adalah personil Nidji kedua setelah drummer Adri Prakarsa yang telah mendapat melepas lajangnya dan mendapat piala yang diberikan teman-teman di Nidji yang khusus diberikan personil sudah menikah, piala ini iberi nama "No Bujang Award"

Rama adalah gitaris NIDJI yang lahir di Jakarta (6 Juni 1984) selain aktif bersama NIdji, Rama juga pernah menjadi penyiar Radio Trax FM dengan nama Dede dan membawakan acara Zona Cinta.

Selamat ya buat Rama alias Dede Nidji, semoga berbahagia dan tambah sukses dan piala 'No Bujang Awards' juga segera diberikan pada personil Nidji yang lain seperti Giring, Ariel, Andro dan RunD.


Share On Facebook

Teenage Mutant Ninja Turtles (Poster)


Trailer Teenage Mutant Ninja Turtle




In This Video:
Nicholas Saputra (Leonardo)
Surya Saputra (Raphael)
Desta Club 80' (Donatello)
Indra Bekti (Micheangelo)
Fauzi Baadilla (casey)
Julie Estelle (April O'Neill)
Atiqah Hasiholan (Karai)
Tio Pakusadewo (Winters)
Kris Biantoro (Splinter)
Rama Nidji (Dinner Cook)
Run-D Nidji (General Gato)

RunD & Rama Nidji Di Teenage Mutant Ninja Turtle

Dua personil Nidji, RunD dan Rama dipercaya untuk menjadi salah satu pengisi suara (dubber) film kartun Teenage Mutant Ninja Turtle versi bahasa Indonesia yang akan disiarkan perdana oleh Star Movies tanggal 28 September 2008 ini. Teenage Mutant Ninja Turtle sempat menduduki posisi teratas pendapatan di jajaran Box Office Amerika Utara saat diedarkan pada tahun 2007 dan tahun ini akan dibuat versi bahasa Indonesia dan akan diisi suaranya oleh artis-artis seperti Nicholas Saputra (sebagai Leonardo), Surya Saputra (Raphael), Desta Club Eighties, Julie Estelle (senagai O'Neill), Tio Pakusadewo, Fauzi Baadila, Atiqah Hasiholan, Indra Bekti (senagai Michaelangelo), Kris Biantoro (senagai splinter) dan Rund - Rama Nidji.

Trus Rama dan RunD memerankan tokoh apa ya? Trus gimana dengan gaya kocak RunD?
Atau Rama yang udah biasa cuap-cuap di depan microphone?

Kita tunggu aja dio Star Movies mulai tanggal 28 sepetember ini mulai jam 8 malam.

More photos About Rund & Rama On TMNT

written by tamtomo

Rama Dan Andro Diberondong

A Milders akhirnya kesampean juga untuk chat bareng Nidji! Rama dan Andro datang kompak berseragam kaos merah bertuliskan kalimat-kalimat himbauan yang sesuai dengan tema konsep panggung mereka di A Mild Live Soundrenaline 2008 "Free Your Voice", yaitu "Stop Piracy". Mereka berdua datang mewakili Nidji yang kebetulan sedang berkumpul di venue untuk melakukan aktivitas off stage mereka.

Begitu kedua nama mereka online, Rama dan Andro langsung diberondong oleh berbagai macam pertanyaan dari Nidjiholic dan A Milders seluruh Indonesia. Andro bahkan sempat melakukan "konsultasi gelap" mengenai dunia perkuliahan, sementara Rama sibuk meladeni kiriman icon-icon bergambar hati dari Nidjiholic dan A Milders.

amild.com

06.06.84 - 06.06.08: M. Ramadhista Akbar


Hari ini 06 Juni, Rama (Dede) gitaris NIDJI genap berusia 24 tahun, mengaku hobi musik dan traveling dan menjadi jubirnya NIDJI, Rama mengidolakan artis Iwan Fals dan Bono. Rama termasuk rajin megirim informasi dan foto-foto saat tour panjang AML Rising Stars kemarin. Berikut kutipan profil Rama yang termuat di Majalah HAI:

Muhammad Ramadhista Akbar. Itu nama lengkap cowok yang lahir di Jakarta 6 Juni 1984 ini.
Untuk urusan ngeband, dibanding personil Nidji lainnya, anak kedua pasangan Ismail Akbar dan Gartati Ismail ini tergolong early starter. Sejak kelas 6 SD, cowok berkacamata ini udah mulai ngejajal serunya tampil di muka umum.Tapi jangan dikira saat memulai, Rama udah ngebeset gitar seperti sekarang ini. Saat itu dia masih jadi vokalis. Dengan suara yang belum pecah, waktu itu udah cukup banyak lagu yang dilengkingkannya. Mulai dari Bermimpi-nya Base Jam sampe Janji-nya Gigi.

Nggak puas hanya nyanyi, Rama mulai nyoba merambah jadi pemain instrumen. Tetep, bukan gitar yang langsung jadi pilihannya. Melainkan beduk inggris alias drum. Toh, instrumen gedumbrangan itu nggak bikin hatinya happy.

Adalah salah satu temennya yang akhirnya berbaik hati minjemin gitarnya ke Rama. Hatinya kontan kepincut berat. "This is my weapon of choice!" gitu pikirnya saat itu.

Lupa Diri
Gitar pertamanya adalah gitar akustik Prince seharga 60.000 perak. Dengan gitar itu, Rama mulai berlatih kayak orang kesetanan. Enam sampe tujuh jam sehari dihabiskannya mengurung diri di kamar buat ngulik.

Keseriusan Rama, bikin hati bokapnya tergerak. Satu hari dia diajak ke Wijaya Musik di bilangan Kebayoran Baru, dan.... das! Sebuah gitar elektrik pun mereka bawa pulang. Nothing serious sih, cuma Prince seharga 200 ribu perak. Namun lebih dari cukup buat memacu semangat Rama buat makin menggeluti dunia pergitaran.

Semua lagu mulai dikuliknya hingga khatam. Terutama lagu-lagunya Greenday dan Nirvana, dua band yang sempet jadi influens utamanya dalam bermusik. Pokoknya kalo udah megang gitar kesayangannya itu, hal-hal lan yang terjadi di dunia ini seakan nggak ada artinya lagi buat Rama. Termasuk hobi lain semisal olahraga. Serius abis!

Kalo denger kisah affair Rama dengan gitar dan musik yang begitu menggebu-gebu, kita mungkin nggak akan percaya, bahwa dia sebenernya tumbuh di keluarga yang biasa-biasa aja. Dalam pengertian, nggak gila-gila amat sama musik.

Masa kecil Rama terbilang biasa. Standar anak cowok yang suka banget sama mainan action figure kayak Voltus dan Saint Seiya. Dan kayak kita juga, dia kerap kudu merengek dulu untuk dibeliin mainan itu. Salah satu yang paling sering jadi "korban" rengekan Rama adalah, almarhum eyangnya. Maklum, beliau tuh gampang banget tersentuh sama rengekan Rama kecil.

Balik lagi ke urusan musik. Bermodal pengalaman di SD, saat masuk SMP Labschool Rawamangun, Rama langsung diajakin ngeband bareng kakak kelasnya. Bandnya sendiri ngebawain musik yang kala itu lagi nge-hype banget, ska!

Seiring sama menurunnya popularitas ska di negeri ini, Eskalator mulai nggak jelas. Rama mutusin cabut dari situ dan langsung gabung sama band bentukan temen sekolahnya yang lain. Namanya Ying & Yang. Salah satu temennya itu adalah Ias, yang sekarang jadi keyboardis Ecoutez!. Band rock and roll bertahan cukup lama. Sekitar tiga tahun, lalu bubar.

Saat itulah Rama ketemu sama Andro, yang lagi nyari gitaris untuk bandnya bareng Ariel. Sempet ikutan nge-jam dan gabung beberapa saat, Rama nggak langsung "on" sama Andro dan Ariel. Gara-garanya saat itu formasi mereka belum komplet. Dan di saat yang sama kebetulan Rama udah komit untuk jadi pemain cabutan buat band lain. Nggak cuma satu, melainkan tiga sekaligus. Edan!

Tapi jodoh nggak bakalan lari ke mana. Kelar berpetualang dengan ketiga band itu, Rama dapet telepon dari Ariel dan Andro. Mereka ngajakin gabung lagi. Dan saat itu mereka nggak genjrengan bertiga. Udah ada Giring dan Adri dalam formasi.

Salah satu hal yang mungkin mampu mengalihkan perhatian Rama terhadap band-band-an adalah obsesinya untuk jadi penyiar. Obsesi itu udah dipendamnya saat masih SMP. Pemicunya adalah program Prambors Wow Mania di Radio Prambors yang dulu digawangi sama duet gokil, Irfan dan Angga.Maka, pas tau kalo ada lowongan untuk jadi penyiar di MTV Sky, nggak pake pikir panjang, Rama langsung ngirimin lamarannya. Lucky him! Dari sekian banyak orang yang melamar dialah yang terpilih untuk mengisi lowongan tersebut. Padahal modalnya saat itu cuma nekat.

Jadi penyiar udah pasti membawa pengaruh besar dalam kepribadian seorang Rama. Bukan dalam artian negatif, lho. Sebaliknya pengalaman berbicara kepada orang banyak itu membuatnya nggak kagok lagi. Terutama saat harus berhadapan sama wartawan yang pengen mewawancaranya dalam konteks Nidji. Makanya, Rama kerap didaulat jadi juru bicara oleh anak-anak Nidji. Pokoknya saban ada acara yang mengharuskan personil Nidji ngomong, udah pasti Rama yang dimajuin duluan

Selain itu, modal jadi penyiar itu juga bikin Rama pede di atas panggung. Harus berhadapan dengan penonton sebanyak apa pun, dia nggak jeri lagi. Nggak jarang dia ikut nenangin temen-temennya yang nervous berat.

Dan berhubung udah pernah berurusan sama yang namanya fans semasa jadi penyiar, pengalaman dapet penggemar bersama Nidji pun nggak terlalu bikin dia kaget. Santai aja Rama nanggepin kegokilan fans-fansnya.

Rama "Nidji": Main Hati

Gitaris yang tubuhnya semakin hari makin berisi ini mengaku sedang menikmati, Main Hati-nya Andara and The Backbone.

Rama si gitaris Nidji mengaku belakangan ini sedang mengulik album Season 2-nya Andra And The Backbone. "Gue fansnya Backbone. Gue Backboners," aku cowok yang saat dihubungi sedang berada di Kupang.

"Main Hati lagu favorit gue tuh!" timpal cowok berambut jigrak ini.

Selain Main Hati, Rama juga menaruh perhatian pada Kepayang dan Tak Ada Yang Bisa. "Kepayang asik, Tak Ada Yang Bisa, lagu jualannya," bilang Rama, dengan nada sok serius. Tapi nih cowok sejujurnya merasa nggak puas dengan album kedua Backbone.

"Jujur, gue masih lebih suka album pertama," tutup pengagum Gita Gutawa ini.

source: hai-online

RAMA, 06.06.1984 - 06.06.2007

Tadinya atlet, sekarang anak band. Tadinya vokalis, sekarang gitaris.
Selain jago ngebeset gitar, rama juga pinter bersilat lidah.
Obsesinya saat ini cuman satu: "selesai kuliah".

Muhammad Ramadhista Akbar, nama lengkap Rama alias Dede, lahir di Jakarta 6 Juni 1984. untuk urusan ngeband, dibanding personil NIDJI lainnya, anak kedua pasangan Ismail Akbar dan Gartati Ismail ini tergolong early starter. Sejak kelas 6 SD, cowok berkaca mata ini udah mulai ngejajal serunya tampil di muka umum. Tapi bukan sebagai gitaris seperti saat ini tapi sebagai vokalis, mulai gari lagunya Base Jam ampe GIGI dilantunkannya.

Tak puas nyanyi, rama mulai nyobain instrumen, awalnya menjadi pemain drum trus lanjut ke main gitar. Gitar pertamanua akustik Prince seharga 6 ribu. Dengan gitar itu Rama mulai ngulik gitar sendiri, sempet ikutan les sampai akhirnya dibeliin gitar elektrik Prince seharga 200ribu ama bokapnya. Semua lagu mulai dikuliknya hingga khatam, terutama lagu-lagu dari 2 band yang jadi influence bermusiknya yaitu Greenday & Nirvana.

Saat masuk di SMP Labschool Rawamangun, Rama langsung diajakin bikin band Eskalator yang kala itu bawain lagu Ska yang lagi beken. Dengan pudarnya ska saat itu, Rama gabung di Yin & Yang selama kurun waktu 3 tahun sebelum band Rock & Roll itu bubar. Saat itu Rama ketemu Andro yang lagi nyari gitaris, sempet ngejam bareng Andro - Ariel sebelum resmi gabung karena kebetulan Rama jadi gitaris cabutan 3 band. Akhirnya Rama resmi gabung setelah personil lain lengkap selain Andro & Ariel juga ada Giring dan Adri.

Selain menjadi gitaris, saat ini Rama masih aktif menjadi penyiar di Trax FM ngebawain acara Zona Cinta. Jadi penyiarpun membawa pengaruh besar, di kelompok NIDJI kerap didaulat jadi juru bicara NIDJI apalagi saat berhadapan dengan wartawan.

Obsesinya sekarang sih pengen cepet-cepet selesai kuliah, saat ini Rama masih aktif di Fakultas Tehnik Mesin Universitas Pancasila.

Nama Lengkap: Muhammad Ramadhista Akbar
Panggilan: Rama/ Dede
Lahir: Jakarta/ 6 Juni 1984
Imel/ FS: nijirama@gmail.om
Hobi: Music & travelling
Musisi Fave: Bono & The Edge (U2), Iwan Fals
Instrumen: Gitar Gibson LP Standard "92", Epiphone LP Custom
Efek: 6 Line Marshall Blues Breaker
Amplifier: Orange

written by: TAM
source: haistar

Rama Nidji: Musik Indonesia Wajar Dibilang Sampah

Banyaknya musik Indonesia di Malaysia sampai-sampai diibaratkan sampah bagi warga negeri Jiran itu. Rama Nidji berpendapat wajar saja kalau musik kita disebut sampah. Kok?

Salah satu pemerhati musik di Malaysia sempat menyuarakan komentarnya di situs berita di sana. Berikut dikutip detikhot dari Utusan, Selasa (1/5/2007).

Sebahagian besar daripada mereka ini akan membawa masuk apa saja yang boleh mendatangkan keuntungan.
Sementara karyawan muzik pula berjiwa kecil sehingga membiarkan kepala dipijak orang.
Lihatlah bagaimana mereka ini mencanang kebanggaan hanya kerana 'berjaya' menembusi Indonesia. Lagu Indonesia yang dibawa ke sini kelihatan besar kerana kita yang berjiwa kerdil dan berselera rendah. Masih tidak sedar lagi?

Warga Malaysia menilai bahwa dunia musik mereka telah terlalu banyak dirasuki musik Indonesia. Peredaran musik Indonesia di negerinya laris manis dan terlalu banyak hingga melebihi karya dari negerinya sendiri.

Nidji sebagai salah satu musisi Indonesia yang promo dan pernah konser di Malaysia pun angkat bicara. Bagi Rama, sang gitaris wajar saja jika musik Indonesia dibilang sampah, musik kita memang terlalu banyak di sana. Bahkan musik Malaysia jadi kalah bersaing.

"Wajar dibilang sampah. Sampah itu kan berceceran dimana-mana. Jadi bener kalau musik Indonesia berceceran di sana. Konser-konser lebih banyak juga dari Indonesia," ujar Rama lewat ponselnya.

Rama pun berkisah tentang pengalamannya promo musik di Malaysia. Saat itu Rama yang mendatangi radio-radio Malaysia sempat kaget karena di tangga lagu mereka posisi 10 besar keseluruhannya diisi oleh musik Indonesia.

"Musik mereka adalah melayu. Kalau mereka keluar dari originalnya juga nggak mungkin," tandas Rama menutup pembicaraan. (Yulia Dian - detikHot)

source: detikcom


Gitaris Nidji Pernah Diikuti Preman Usai Latihan

M. Ramadista Akbar atau Rama, gitaris Nidji, pernah diikuti segerombolan pemabuk usai latihan grupnya pada dini hari. Untungnya Rama berhasil menyelamatkan diri dengan berhenti di sebuah kantor polisi.

Nama grup band Nidji mulai dilirik para pecinta musik Tanah Air. Kini, Giring Ganesha (vokal), Ariel (gitar), M. Ramadista Akbar (gitar), Randy Danistha (keyboard), M. Andro Regantoro (bas), dan Adri (drum) sibuk memperkenalkan album baru mereka Breaktru. Konser di berbagai mal pun menjadi agenda rutin mereka.

Kesuksesan itu memang bukan hal yang mudah diraih. Mereka harus melewati berbagai rintangan dan cobaan. M. Ramadista Akbar atau Rama, misalnya, pernah mendapat teror dari para preman sepulang latihan dini hari. "Dari lampu merah aku merasa udah ada yang gak beres... Tiba-tiba pas aku jalan, dia [penjahat] mengejar," cerita sang gitaris baru-baru ini.

Saat Rama menengok, di dalam mobil pengejarnya terdapat banyak orang. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran dengan para preman tersebut. Cowok berkacamata ini akhirnya berhasil menyelamatkan diri dengan berhenti di sebuah kantor polisi. Menurut Rama, polisi sempat mendatangi kendaraan para pengejarnya. Tapi, mobil sang penjahat segera kabur.

Belakangan ketahuan gerombolan yang diyakini Rama tengah mabuk hanya pergi sesaat. "Mereka hanya putar di situ," kata Rama. Untungnya Rama tak langsung meninggalkan kantor polisi hingga memutuskan untuk tetap tinggal sampai keadaan benar-benar aman. Pengalaman pahit itu menjadi pemacu Rama untuk lebih berhati-hati.

(MAK/Darnifawan dan Nurwanto at liputan6.com)


Rama Nidji, Penggemar Sound British dari Orange Amps

Jatuh cinta pada karakter sound dari amplifier tertentu yang kemudian diakomodasikan sebagai warna sound pada kelompok bandnya, adalah sah-sah saja.
Termasuk Rama, gitaris band Nidji yang baru saja melejit namanya di belantika musik Indonesia.

Awalnya, sekitar tahun 2000 lalu, sang kakak yang sekolah di Australia sempat membawakan oleh-oleh untuk Rama sebuah amplifier mini produksi Orange.
Meskipun kecil, tapi ampli ini sangat sering digunakan Rama untuk latihan dirumah dan nge-band bareng teman-temannya.

"Ampli Orange pertama saya itu memang kecil, tapi soundnya sudah OK banget. Karakter British Sound-nya kental sekali. Pada saat itulah saya langsung jatuh cinta dengan sound dari amplifier Orange hingga sekarang. Dan begitu amplifier Orange masuk ke Indonesia, saya sangat senang sekali. Dan akhirnya memiliki tipe besarnya", kenang Rama yang kini diperkuat dengan amplifier head kabinet Orange Rockerverb 100.

Artikel lengkap bisa dibaca Majalah AudioPro Edisi Bulan November 2006