Lets Search!

Facebook Connect


Showing posts with label media. Show all posts
Showing posts with label media. Show all posts

Nidji Raih Posisi 134 Versi Rolling Stone


Tidak mudah untuk menciptakan sebuah karya musik. Hal itu pernah dialami vokalis grup band Nidji, Giring, yang sempat stres ketika menciptakan lagu Laskar Pelangi.

"Karena waktu itu gue stres banget, sewaktu bikin lagu itu. Gue sempat berpikir 'ah sudahlah nyerah'," kata Giring saat ditemui di malam penghargaan 150 Lagu Terbaik Indonesia, di kantor Rolling Stone, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Namun, bukan berarti Giring harus tenggelam begitu saja. Berkat novel Laskar Pelangi, semangat Giring kembali menggebu-gebu. "Tapi setelah baca novel itu yang dikasih nyokap, gue jadi semangat lagi," ujar Giring. Dari situ pula Giring tahap demi tahap mulai menemukan inspirasi.

"Saya baca novelnya, saya gabungin dengan pengalaman hidup saya. Pokoknya kalau saya dengar lagu Laskar Pelangi sampai sekarang masih merinding karena ingat masa lalu," kata Giring.

Berkat upayanya bangkit dari rasa stres itu, akhirnya pada Kamis (3-12) malam Nidji pun diganjar penganugerahan 150 Musik Terbaik Indonesia Sepanjang Masa, urutan ke-134 versi majalah Rolling Stone Indonesia.

"Saya gak pernah menyangka, karena dulu cuma berharap albumnya bisa ada di toko. Emang kalau lagu yang dibuat dengan kejujuran akan ada hasilnya. Dan kalau lagu ini bisa everlasting, gue jadi punya cerita buat anak cucu gue," ujarnya

Rileks.Com

Review CD on RSI, Album Ke 3 Yang Simpel & Aman

Anda mungkin akan mengira sedang dengar D’Masiv kalau memasukkan Let’s Play ke dalam CD player sambil menutup mata dan berpikir kenapa sang vokalis lelaki ini memproklamirkan dirinya dengan terus-menerus merintih “Akulah Samantha!” Barulah setelah membuka mata Anda akan sadar bahwa ini adalah Nidji dan lagu yang di-nyanyikan Giring Ganesha adalah “Sang Mantan”, sebuah balada melodramatis yang meratapi berakhirnya sebuah masa kebahagiaan.

Cukup banyak ratapan lain di album ketiga me-reka ini, seperti “Dosakah Aku” atau “Tak Terjamah”, sebuah kisah tentang seseorang yang, betul, tak terjamah. Lagu pelan ini akan mengingatkan Anda pada lagu lama mereka “Child”, sebagaimana “Rela Berkata” akan mengingatkan pada “Hapus Aku”.

Mungkin setelah membuat terobosan pada Breakthru’ dan semakin menaikkan standar pada Top Up, Nidji merasa Let’s Play adalah saatnya bermain santai dan aman saja. Tapi kalau men-dengar “Hari Yang Terindah” dan “Pahlawan Mimpi” yang riang, terdapatlah bukti bahwa me-reka masih bisa bersenang-senang tanpa harus melankolis.

Oleh : Hasief Ardiasyah
Source: Majalah RollingStone Indonesia, Des 2009

Band of Brothers


Nidji merilis album ketiga yang penuh dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Melbourne yang dingin merasakan kehangatan mereka untuk pertama kalinya.


Huh...huh...huh...”
Giring Ganesha Djumaryo terengah--engah di kamar hotel itu.
“Seperti sedang bercinta saja,” kata saya.
“Nah, apalagi kalau lagi begitu,” balasnya seraya tertawa.

Laskar Pelangi, The Box Office Editors' Choice Rolling Stone Indonesia



Malam ini, NIDJI bersama tim Laskar Pelangi akan menghadiri acara penganugerahan Editors'Choice 2009 dalam Rolling Stone Private Party yang diselenggarakan oleh Majalah Rolling Stone Indonesia.

Laskar Pelangi masuk dalam kategori The Box Office dan terpilih bersama 10 kategori lain seperti Luna Maya [The Sensational], The Changcuters [The Phenomenal],Pay & Dewiq [The Hit Makers], RAN [Rookie of the Year],Sind3ntosca [One Hit Wonder], Rinny Noor [The Showmaster], Terusik Traxkustik [The Best Event], Demajors [The New Alternative] dan Robin Hutagaol RIP [Metal Ambassador]

Acara Rolling Stone Private Party dalam rangka ultah Majalah tersebut yang keempat selain diisi acara pemberian penghargaan juga da penampilan istimewa God Bless, Edane, Alexa, The Changcuters dan CUTS. Tema acara yang dimulai malam nanti jam 7 adalah Rock & Roll Propaganda bertempat di Rolling Stones Live Venue.


Giring, Idola Cilik BIkin Merinding

Giring Ganesha mengaku senang bisa bernyanyi bersama para finalis Idola Cilik 2. Alasannya, selain lucu juga karena suaranya tak kalah oleh penyanyi cilik lain. "Pertama kali aku dengar lagu Nidji dinyanyikan oleh anak-anak Idola Cilik, respons pertama adalah aku merinding dan menangis. Aransemennya sangat bagus dan indah," kata Giring saat ditemui seusai menyanyi bersama Idola Cilik 2 dalam peluncuran album kompilasi di Dufan Ancol, Jakarta Utara, Kamis (16/4).

Giring mengaku, ketika melihat anak-anak Idola Cilik, ia teringat kepada penyanyi cilik seangkatan Dhea Ananda dan Enno Lerian. "Kita dulu senang banyak penyanyi cilik, tetapi sekarang berbeda banget. Anak-anak Idola Cilik malah menyanyikan lagu bukan lagu anak, melainkan lagu orang dewasa," kata Giring sambil menyebut beberapa lagu milik Peterpan, Nidji, dan ST 12

Meski demikian, Giring menambahkan, bukan baik atau buruk, tetapi tergantung lagu apa yang dinyanyikan anak-anak. "Aku pernah bertemu anak kecil yang nyanyiin lagu-lagu seronok. Dari situ, aku mikir, aduh kok anak kecil bisa-bisanya nyanyiin lagu seperti itu," kata Giring setengah bertanya.

Nidji Gebrak Palembang

Ribuan masyarakat dan Nidjiholic, sebutan penggemar band Nidji, memadati area parkir Stadion Madya Bumi Sriwijaya Palembang, tadi malam.

Mereka hanyut dalam alunan nada yang dilantunkan band asal Jakarta tersebut dalam gelaran Absolute Revo Concert with Nidji. Setelah cukup lama tidak singgah di Palembang untuk menyapa Nidjiholic, penampilan band yang beranggotakan Giring (vokal), Rama (gitar), Ariel (gitar),Randy (keyboard),Andro (bass), dan Adri (drum) semalam bisa melepaskan rasa kangen penggemarnya itu.

Tampil dengan gaya khasnya yang energik, Giring mampu membawa ribuan penonton ikut berjingkrak dan menari mengikuti irama lagu yang dinyanyikannya. Tepat pukul 20.45 WIB,penampilan Nidji dimulai. Diawali dengan seorang pengendara yang menaiki panggung dengan Honda Absolute Revo, lampu panggung pun dimatikan.

Tak berapa lama suara khas Giring membahana ke udara.Tembang Hapus Aku sukses membuka pertunjukan Nidji kelima kalinya di Bumi Sriwijaya semalam. Suasana Palembang yang dingin sehabis diguyur hujan pun seolah dihangatkan dengan tembang-tembang modern rock ala Nidji.

Hits-hits Nidji dari dua album mereka seperti Arti Sahabat, Child,Heaven,Sudah,Jangan Lupakan, mampu membuat Nidjiholic terus bernyanyi. “Apa kabar Palembang? Sudah makan pempek belum? Kalau gue sudah tadi. Kita senang-senang malam ini bersama motor yang keren banget, apa? Absolute Revo 110,” teriak Giring di tengah lagu Arti Sahabat yang disambut tepuk tangan dari penonton.

Meski baru saja tampil di Samarinda Jumat (13/3) lalu dalam event yang sama,tidak mengurangi semangat anakanak Nidji untuk memberikan hiburan segar kepada Nidjiholic di Palembang. Janji untuk menggebrak Palembang dalam sesi jumpa pers sore harinya, ternyata dibuktikan Nidji.

Meski terlihat lelah, semua personil Nidji tetap berupaya maksimal memberikan penampilan terbaik mereka.Tanpa jeda mereka membawakan tembang yang sangat akrab di telinga pecinta musik Palembang. Laskar Pelangi,Shadows,Disco Lazy Time, Kau dan Aku, yang dibawakan Nidji selalu diikuti koor penonton.

Ditutup dengan hits Biarlah yang liriknya diubah menyesuaikan theme song Absolute Revo, Nidji menuntaskan pertunjukannya. Promotion & Network Development PT Astra Honda Motor (AHM) Judhy Gautama mengatakan, Absolute Revo Concert with Nidji semalam merupakan rangkaian penutup peluncuran motor Honda terbaru yakni Absolute Revo 110.

Sebagai brand ambassador (duta) sepeda motor Honda Absolute Revo 110, Nidji sudah menyambangi enam kota lainnya yaitu Tangerang (6/2), Bandung (8/2), Denpasar (13/2), Surabaya (20/2), Lampung (25/2), dan Samarinda (13/3).

SINDO

Five Minutes-Nidji Obati Rindu

Dua band papan atas, Five Minutes dan Nidji, mengobati rindu para penonton di Lapangan Tegallega,Kota Bandung, kemarin.Ribuan kawula muda Bandung gegap gempita menyambut kedua band ini dengan lagu-lagunya.

Konser dua band dalam acara Honda Absolute Revo 2009 ini berlangsung meriah. Kemeriahan semakin terasa ketika para personel band Five Minutes yang terdiri atas Ricky FM,Richie,Drie Warnata, Roelhilman, dan Aria, memasuki panggung. Band asli Kota Kembang ini mengguncang penonton dengan lagu-lagu dari album ke-7 mereka yang baru di-launching pada Januari lalu.

Sang vokalis,Richie,membawa penonton bernostalgia dengan menyanyikan beberapa hit album pertama mereka yang saat itu sarung masih identik dengan cara berpakaian grup satu ini. Meski di bawah guyuran hujan,teriakan penonton justru semakin menggila saat lagu Menahan Perihd ibawakan. ”Lagu ini sekaligus promo album yang ketujuh dari kami,” kata personel Five Minutes lainnya,Ricky FM. Setelah diguncang dengan lagu-lagu Five Minutes, penonton kembali dipanaskan dengan kehadiran kelompok band Nidji yang digawangi Giring (vokal), Rama dan Ariel (gitar), Adrie (drum), Andro (bass), dan Run-D (keyboard).

Seperti biasa, kelompok band ini selalu tampil energik setiap kali konser. Penonton semakin terbius saat hit-hit Nidji berirama nge-beat,seperti Hapus Aku, Arti Sahabat, dan Child dibawakan. Suasana pun semakin ramai ketika kelompok band ini menutup pertunjukannya dengan lagu Biarlah yang juga menjadi jinglemotor Revo. Lagu yang dinyanyikan secara maraton hingga 10 lagu itu betul-betul mengobati rindu para penggemar Nidji dari Bandung.

”Saya tidak menyangka teman-teman dari Bandung begitu antusias menyaksikan acara ini. Hebat Bandung,” kata Giring singkat. Rencananya, band ini akan tur ke beberapa kota besar di Indonesia untuk membawakan jingle Biarlah menjadi ikon motor keluaran terbaru dari Honda.

sindo.08.02.09

Nidji: Long Journey Down The Rainbow Road

Taken From: The Jakarta Post

Given the tight competition among bands in Indonesia, members of pop-rock six piece Nidji say that they can not enjoy the luxury of taking breaks.

However, the fun they have performing in front of an audience keeps them sane while enduring their long tours.

The fickle nature of Indonesian pop music fans, who change tastes like dirty socks and the plethora of pop-bands on the Indonesian scene leaves little room for complacency. But Nidji has learned how to stay afloat from the experience of other bands, including Bandung's Peterpan and Sheila on 7 from Yogyakarta.

"Once they (Peterpan and Sheila on 7) took a break it was really hard for them to come back on the scene again. Just look how hard Peterpan had to work with their promotion when they returned. Now, they're back and doing well, but that took a lot of hard work from them. Same with Sheila on 7. We're just taking lessons from bands before us," curly haired vocalist Giring Ganesha Jumaryo, 25, said.

He said that, while international bands have an album launch-promotion-tour-holiday schedule, their routine is "album launch, promotion and then tour while still doing promotion and that goes on and on until we release another album."

"It's hard when we think about the competition and all that stuff. But when we stick to purely making music and have fun it becomes more enjoyable," guitarist Andi Ariel Harsya, 25 said.

Their hard work has paid off. Rolling Stone Indonesia listed their second album Top Up (2007) as one of the 20 best albums of 2008, a list that included indie bands Sore, Santamonica and RAN, as well as established bands Peterpan and Slank. Meanwhile, their single Laskar Pelangi (Rainbow Warriors), part of the soundtrack to the movie adaptation of the book of the same title, has ruled the airwaves. Two of their songs, Heaven and Shadows, are featured on the NBC (a US television network) series Heroes. But fans from Jombang and Bojonegoro in East Java still sing the hit singles, Disco Lazy Time and Hapus Aku (Erase Me) from their 2006 debut full-length Breakthru'.

The Brit-pop influenced rock band visited The Jakarta Post on a warm Wednesday afternoon last week to discuss life on the road, the not-so-glamorous-aspects of being Indonesian pop-stars and how their parents have formed a union around the band.

"We're maybe the only band with a parents union. Our parents have an association called the Nidji Parents Union, or the ION," Andro said, explaining that their parents call each other up and complain about how they do not get to see their children much.

Roars of laughter filled the air as the band joked around on the roof of The Post's building, while waiting for their picture to be taken.

Widi, from the band's label, Musica, said that the boys were the most jocular of their artists; "Giring's laughter is the loudest." perhaps this is due to the constant clowning of keyboardist Randi Danysta, 24, who has a penchant for dropping lame jokes with a straight face.

Randi, with hair as curly as Giring's, looked at the satellite dishes on the rooftop of The Jakarta Post under the blaring sun and said that they would make a good place to fry tempeh.

"And then people would wonder why there's a rustling noise on the receiver," he said, enticing a roar of laughter from the other band members.

During the interview, drummer Muhammad Adri Prakasa, 25, said that Randi has practiced Nidji's motto for the interview. "Ask him what Nidji's motto is!" the recently wed drummer implored.

With all eyes intensely on him, Randi said, in a soft scruffy voice: "Nidji's motto: First, be Energetic; second, be stylish; third...that's all".

Again, roars of laughter erupted from fellow band members. "I just wasted my time, listening to you," Adri rebutted.

Their jovial spirit and shared passion for music, is what keeps the band together. Bassist Andro Regantoro said that they are as close as family.

"We never get tired of each other," Ariel said. "What tires us is the traveling. Another airport, another eight to 10-hour-drive," he said.

"But again, it's all worth it when we get up on stage and perform," he added. Ariel is the one behind the song Hapus Aku (Erase Me), inspired by his relationship with singer Dhea Ananda.

Nidji's energetic stage performance has become a trademark; the opposite of shoe-gazers, the band takes their live act seriously.

"We conceptualize everything: the blocking; timing for when I come forward and when the others come forward. We're very detailed," Giring said.

According to Regantoro, who founded the band in 2002 with Ramadhista, the band wants to give the audience what he calls the "Nidji experience".

"We're very concerned with our stage act. Every detail is important. We don't want to play and then just go home. We want to give something to the audience, so when they go home they take something with them: The experience, the Nidji experience."

Aside from going international, their dream for 2009 is to make a spectacular stage show.

But in order to do this, Giring said, Indonesia has to do its part to develop the possibilities for live performances. "Otherwise, Indonesia's showbiz won't go anywhere", he said.

He cited Taiwan's hip-hop artist Jay Chow's concert in Singapore as an example of a spectacular show. "When he performed in Singapore he brought with him a huge stage set. It was really cool. If they can do it, why can't Indonesia?" Giring asked.

Giring showed a hint of nationalistic pride during the conversation, saying he did not really mind fans switching their support to other local bands. "Hey, as long as they support the Indonesian music industry. You know, buying original CDs and cassettes," he said.

Giring then discussed the problem of piracy in Indonesia. "People think that being pop-stars means that your filthy rich. That's not true man. I mean we have earnings, yes. But people in Indonesia, they don't buy CDs, they don't buy cassettes. They download music and share music from one cell phone to another using bluetooth," he said.

"We're lucky because we get endorsements and we get paid when we perform live, which is physical work. But what about the older musicians who don't perform anymore?" he asked.

The vocalist, who has a quarter of his head shaved, showed an idealist flair. Despite just having returned from Hajj with his mother, he holds on to Nidji's integrity as entertainers.

"We don't make religious songs," he said. Ariel seconded the notion. "Producing religious songs is like preaching. That's a big responsibility," he said.

Giring said that Nidji would make positive songs and said he did not approve of the recent trend among pop-bands of making songs that glorify infidelity.

"I don't think the trend of writing songs about infidelity is good. It's like saying that it's OK to do that. Even The Beatles never wrote about infidelity. They wrote songs about love," he said.

As do Nidji.

Nidji di Jingle Dare Malang


Tampil di akhir acara gelar Indomie Jingle Dare 2, Sabtu malam (24.01.09) lalu tidak membuat grup band Nidji loyo. Sebaliknya grup band yang digawangi Giring (vokal), Andri (drum), Ariel (gitar), Run-D (keybord), Rama (gitar), dan Andro (bas) tampil all out. Dibuka dengan lagu berjudul Kau dan Aku, Nidji langsung memacu semangat penonton. Giring, begitu keluar panggung langsung menyapa para Nidjiholic, yang setia menunggu penampilan bandnya.

“Untuk Indonesia, Untuk Arema, Untuk Nidjiholic, kami persembahkan karya kami,’’ teriak Giring, begitu reff lagu berjudul Kau dan Aku dinyanyikan. Responnya, para Nidjiholic pun memberikan aplaus yang sangat marak.

“Nidji…Giring..Randy..Rama..,’’ teriak para Nidjiholic. Tidak mau kalah, Giring terus melambai-lambaikan bendera Merah Putih, untuk menunjukkan kesetiannya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selesai lagu berjudul Kau dan Aku, Nidji menyambung penampilannya dengan lagu berjudul Arti Sahabat. Lagu berirama pop ini dibawakan cukup apik. Tanpa sedikitpun cela, Giring memberikan kesempatan para Nidjiholic untuk bernyanyi bersama. Dengan gayanya yang khas tersebut, Nidji melambaikan tangannya untuk mengajak penonton ikut bernyanyi.

Lagu Laskar Pelangi mendapat respon lebih dari Nidjiholic. “Kami tidak pernah membayangkan bisa sampai di sini, tour untuk manggung, menghibur para Nidjiholic. Dahulu kami hanya membayangkan, latihan bikin album dan mentok rekaman. Tapi ternyata dengan mimpi kami, kami bisa di sini menghibur kalian semua Nidjiholic,’’ teriak Giring sambil mengajak para fansnya untuk terus memiliki mimpi.

Bukan hanya mengajak bermimpi para Nidjiholic. Melalui Giring, Nidji juga berusaha terus dekat dengan para penggemarnya. Dan itu dibuktikan dengan Giring yang meminjam kacamata ala Giring saat tampil membawakan lagu berjudul Biarlah. Sedangkan saat membawakan lagu berjudul Shadow, Giring tidak lupa membawa lampu senter ala polisi. Saat membawakan lagu yang menjadi ost film drama berjudul Heroes tersebut Giring mengayun-ayunkan senter kepada Rama, gitaris Nidji.

malangpost

Nidji Membidik Asia Pasifik


Nidji bakal berlaga di sejumlah festival musik internasional di beberapa negara Asia Pasifik.

Setahun silam, Giring 'Nidji' sempat menyampaikan rencana besar grup-nya yang ingin menembus Asia Pasifik. Rencana besar itu tampaknya baru bisa diwujudkan pada pertengahan tahun ini. Nidji telah mengantongi tiket untuk tampil di sejumlah festival di beberapa negara Asia Pasifik. ''Rencana besar kita tahun ini sebenarnya banyak. Tapi yang paling pasti di depan kita saat ini adalah mengikuti festival internasional,'' kata Giring, vokalis Nidji, Selasa (20/1).

Giring yang baru saja menunaikan ibadah haji juga mengungkapkan sejumlah negara yang bakal disambanginya dalam rangkaian festival musik. Di antaranya, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Filipina, serta beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik. Rangkaian festival internasional itu, kata Giring, dimulai saat memasuki musim panas atau mulai Juni mendatang. Nidji hadir di sana berkat usaha sendiri maupun undangan yang dikirimkan pihak penyelenggara festival. ''Ini adalah rencana kami yang sudah lama. Kesempatan ini tentu tidak akan kami sia-siakan,'' ujar penyanyi bernama lengkap Giring Ganesha ini.

Nidji yang dihuni oleh Giring (vokal), Andri (drum), Ariel (gitar), Run-D (kibor), Rama (gitar), dan Andro (bas), sebenarnya sudah sejak 2006 membidik pasar industri musik Asia Pasifik. Saat itu, mereka merilis ulang album debut mereka, Breakthru, dalam versi Bahasa Inggris. Nidji memproyeksikan penjualan albumnya ke lima negara, yakni Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Korea Selatan.

Dalam mengatur siasat penjualan album, pihak Musica Studios -- perusahaan rekaman yang mendistribusikan album Nidji -- terlebih dahulu melakukan 'serangan fajar' ke Thailand, Filipina, Korea Selatan, dan Singapura. Sedangkan peluncuran album versi Inggris ini baru secara resmi dilakukan di dua negara yakni Indonesia dan Malaysia.

Lagu berbahasa Inggris
Soal persiapan untuk menapak Asia Pasifik, Giring bersama rekan-rekannya lebih banyak melakukan sejumlah eksplorasi musikal. Namun seperti apa detail eksplorasi yang tengah digarap Giring dan kawan-kawan, Giring belum bersedia mengungkapkan. Yang pasti untuk lagu-lagu yang akan dibawakan, kata Giring, sebagian besar sudah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris. ''Yang pasti kita akan memakai lagu-lagu yang berbahasa Inggris, tetapi segala kemungkinan lainnya sudah kita persiapkan juga

Nah, soal album baru bagaimana? Giring mengaku sudah sempat membicarakan hal itu. ''Tetapi seperti apa bentuknya kita masih belum mau terlalu membicarakannya dulu. Yang pasti (album baru) itu juga menjadi salah satu big plankita tahun ini,'' kata dia. Pada awal tahun ini, Nidji baru saja merilis single terbaru yang berjudul Shadow. Single ini dijadikan soundtrack untuk serial Heroes di musim ketiga. Serial yang tayang di saluran televisi berlangganan ini merupakan salah satu serial yang paling banyak ditonton di kawasan Asia.

Video klip yang digarap oleh sutradara Sim F, salah satu sutradara video klip dan iklan terbaik Indonesia, menampilkan Fahrani dan Nicholas Saputra. Pamor Fahrani ini kian meroket setidaknya setelah dia dinobatkan sebagai aktris terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Sedangkan para personel Nidji dalam video klip ini digambarkan sebagai pahlawan berkekuatan super.

republika


Harapan Nidji Di 2009


apa sih harapan NIDJI di tahun 2009 ini?

"ingin memajukan industri musik di tanah air selain itu grup musik ini akan meluncurkan album ketiganya"


"tahun 2009 akan menjadi tahun yang sulit bagi musisi-musisi di seluruh Indonesia dan akan berdampak bagi seluruh masyarakat akibat krisis global dan PHK"


Malam Tahun Baru, Khusyuk Beriktikaf

Tak seperti sebelumnya, malam tahun baru 2009 kali ini, Giring Ganesha bersama kelompoknya, Nidji, absen dari ingar bingar panggung. Mereka tak mengisi acara di pengujung tahun.

Tapi, itu bukan berarti tak ada tawaran yang disodorkan kepada kelompok yang melejit melalui albumnya Breakthru ini. Malah, sebaliknya mereka justeru menolak dengan cara halus dan memilih istirahat.

Lantas kemana Giring? Selain ingin benar-benar melepas penat, para punggawa Nidji juga ingin mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan sosial. “Kalau aku dan teman-teman itu absen dari panggung, karena merasa sangat bersyukur sekali sebab selama ini telah diberi rahmat kelimpahan rezeki dan nikmat yang begitu banyak. Kesehatan, hidayah, pokoknya banyak sekali,” tutur Giring saat dihubungi di Jakarta, Kamis (1/1) petang.

Lantaran itulah, untuk mewujudkan rasa syukur itu, Giring bersama personil Nidji lainnya kerap mengundang anak-anak yatim dari berbagai panti asuhan untuk berbagi. “Ya, aku yakin bahwa di dalam rezeki yang kita terima ada sebagian diantaranya adalh hak anak yatim dan orang miskin. Selain itu ya, kita berbagilah dengan membuat mereka bahagia,” ungkapnya.

Dan pas menjelang detik-detik pergantian tahun, lajang kelahiran Jakarta 14 Juli 1983 ini, memilih beriktikaf bersama ibundanya di mesjid. Menurutnya, apa yang dilakukannya itu, juga sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada sang Khalik. “Jadi aku mencoba untuk berkontemplasi atas segala nikmat yang diberikanNya,” terangnya.

Sementara, menyinggung rencana di 2009 ini, penyanyi yang mulai suka melantunkan tembang britpop sejak di bangku sekolah menengah pertama itu, menyebut memiliki sejumlah rencana. “Pokoknya banyak, yang pasti semuanya untuk menuju yang lebih baik,” ujarnya seraya tertawa.

Hanya memang, kemungkinan untuk meluncurkan album baru, musisi yang baru menunaikan ibadah haji itu, merasa belum saatnya. Sebab, menurutnya, 2009 merupakan tahun yang berat. Selain karena adanya krisis, tahun ini juga ada hajatan pemilihan umum. Sehingga, fokus orang lebih pada ke hajatan politik, mereka juga memilih untuk mengutamakan kebutuhan primer.

“Karena tahun yang bisa dibilang berat. Orang aku memilih untuk belanjakan uangnya untuk makan ketimbang beli kaset, iya kan? Perhatian mereka juga ke politik. Nah, daripada mubazir. Mungkin ditunda dulu,” terangnya.

Meski begitu, tak berarti kegiatan menulis lagu dan berlatih bersama kelompoknya juga berhenti. Giring masih aktif menulis lagu. Begitu dengan teman-temannya, mereka tak pernah absen berlatih. “Ya minimal kita berdiskusi lah...Itu istilah kerennya ya,” kata Giring terkekeh.

Tapi ngomong-ngomong akankah mengubah penampilan setelah menyandang gelar haji? Penggemar berat Chris Martin, vokalis Coldplay itu mengaku tak akan melakukannya. “Kan yang haji itu hatinya, bukan fisiknya. Kalau penampilan tetap seperti apa adanya. Insya Allah, kegiatan beriktikaf, bersyukurlah yang ditambah. Insya Allah,” kata Giring serius.

Source: Tempo

Nidji Dikejar Bayangan Hitam

Source: DetikHot - Eny Kartikawati

Grup band Nidji tengah beraksi di atas panggung. Tiba-tiba sebuah bayangan muncul. Bayangan dari masing-masing personel Nidji itu lama-kelamaan mendominasi sang empunya bayangan. Apa yang terjadi?

Apa yang diceritakan di atas adalah sekelumit kisah dari video klip Shadows' milik Nidji. Lagu Shadow terpilih sebagai soundtrack serial televisi Heroes musim ketiga. Untuk pertama kalinya video klip tersebut akan tayang di situs resmi Channel (V), 19 Desember ini.

Seperti dari rilis yang diterima detikhot dari Star, Jumat (19/12/2008), lagu Shadow dibuat Nidji karena terinspirasi serial Heroes. Lagu itu juga jadi penghargaan untuk semua orang yang setiap harinya pasti tergoda oleh sisi buruk mereka namun pada akhirnya tetap bisa menonjolkan sisi baik dari orang tersebut.

Selain dibintangi para personel Nidji, Giring, Adri, Andro, Ariel, Rama dan Run-D, video klip Shadow juga diramaikan oleh Nicholas Saputra dan Fahrani. Dikisahkan Giring cs harus bertarung melawan Nicholas untuk menyelamatkan Fahrani.


Nidji Spesialis Soundtrack Film?

Masih lekat di ingatan kita, Nidji menciptakan soundtrack film Laskar Pelangi. Sekarang, Nidji kembali menyanyikan lagu untuk soundtrack film serial Heroes Season 3.

"Kita berenam selalu diberi mimpi yang menjadi kenyataan. Ternyata kita kembali menyanyikan theme song. Judulnya Shadow, diambil dari album 'Top Up'," kata vokalis Nidji, Giring, ini kepada okezone di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (1/11/2008) malam.

Vokalis yang baru patah hati ini menceritakan, Shadow diciptakan secara keroyokan dan tidak sengaja justru menceritakan tentang Heroes.

"Shadow terpilih, lucunya secara tidak sengaja menggambarkan Heroes. Ini khusus kita bawakan untuk Nidjiholic," jelasnya

okezone

Shadows Untuk Heroes

ISI SOUNDTRACK, Lagu Shadows yang mengisi soundtrack Heroes musim ketiga memperkuat posisi Nidji sebagai grup yang diakui internasional. Klip video kini sedang disiapkan.

SINGLE”Laskar Pelangi”(OST film Laskar Pelangi) masih hangat diputar di radio.Namun,lagu Shadows milik Nidji diprediksi bakal jauh lebih populer, setelah mengisi soundtrackdrama televisi Heroes.

Shadows, yang masih jadi bagian di album terbaru Nidji ”Top Up” itu memang sedang bergema sebagai soundtrack drama televisi populer Heroes yang kini menginjak musim ketiga.Heroes,arahan Tim Kring,bercerita tentang orang-orang biasa yang menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan super. Dari situ, mereka akhirnya saling bekerja sama untuk menolong sesama.

Sejak tayang pada 2006 di NBC,demam Heroes yang di Amerika ditonton oleh 14,3 juta orang itu sampai juga ke Asia, termasuk Indonesia. Menurut Nidji, kepercayaan mengisi soundtrack musim terbaru Heroes dari Star Movie Asia didapat setelah sebelumnya mereka menyumbang lagu Heaven. Lagu itu mengikat soundtrack Heroes musim kedua.

”Memang setelah promo Heaven selesai, kita masih tetap dekat dengan mereka (Star Movie Asia). Nah, setelah mendengarkan album ”Top Up,”mereka senang sekali,dan memilih lagu itu untuk serial Heroes musim ketiga,” papar Giring yang menyebut anak-anak Nidji juga termasuk penggila Heroes. Ia juga mengungkap rasa syukurnya karena sudah dua kali lagu Nidji digunakan menjadi serial TV di skala Asia.

”Entah kenapa,lagu-lagu Nidji sepertinya kurang cocok digunakan oleh sinetron Indonesia. Ya, mungkin apa yang kita bikin lebih kena sama orang-orang luar negeri,” kata Giring lagi. Dua kali bekerja sama dengan pihak Star Movie Asia juga membuat Giring menyadari betapa pihak luar lebih menghargai Nidji sebagi sebuah band. Itu terlihat dari promosi, hingga perlakuan istimewa yang diberikan kepada Nidji ketika grup asal Jakarta ini menjalankan tur promo mereka di beberapa negara di Asia.

”Kalau saya lihat, pihak luar sudah ngerasa ada talent yang bisa diekspos. Maka, mereka juga tidak ragu-ragu untuk memberi exposure buat kita juga. Seperti Nidji saat kontrak Heaven. Setelah itu ada rentetan acara di luar negeri buat kita,” beber pria yang kerap tampil eksentrik ini.

Sedangkan perlakuan paling mengesankan yang pernah mereka terima adalah saat berpromo di Singapura dan diinapkan di Hotel berbintang lima. ”Kita enggak nyangka kalau mereka bakal memperlakukan Nidji seperti band-band dari Amerika. Wuah, semua yang mereka kasih ke kita itu sangat-sangat profesional dan pastinya bikin kita senang,” kenang Giring.

Meski demikian, Giring mengatakan bahwa Nidji tidak akan memilih- milih partner untuk bekerja sama. Nidji akan tetap membina hubungan baik dengan pihak lokal ataupun luar negeri. Saat ini, Giring sendiri sedang dalam proses meeting untuk pembuatan video klip Shadows.

”Biasanya kita agak-agak cerewet untuk urusan pembuatan klip. Tapi kali ini akan ada pengecualian. Karena mereka kan tidak hanya ingin mengekspos Nidji saja,tapi juga ada kepentingan untuk menaikkan serial Heroes ini sendiri,” tukas Giring. Ditanya tentang berapa nominal yang Nidji terima untuk satu lagu yang digunakan untuk film Heroes, Giring tak berani untuk mengucapkannya dengan lugas.

”Bagi Nidji,lagu kita bisa diekspos di luar negeri dan didengar saja sudah jadi suatu hal yang besar. Kalau ngomongin duit, enggak semua hal bisa dinilai pakai uang,”jelasnya. (megiza)

seputar indonesia

Lagu Nidji Jadi Soundtrack Film Heroes Season 3

Kabar menggembirakan kembali datang dari Nidji. Salah satu singelnya yang bertajuk Shadow dipilih jaringan televisi Star World untuk menjadi theme song film serial HEROES season 3 di kawasan Asia.

Ini merupakan kali kedua lagu Nidji dipakai untuk theme song film Heroes setelah singel Heaven di season sebelumnya.

Shadow rencananya akan mulai dipakai Star World mulai awal November mendatang dan akan ditayangkan di beberapa negara di Asia, antara lain Indonesia, Singapura, Filipina, dan Malaysia.

Lagu ini termuat di album Top Up yang juga memuat singel-singel apik lainnya seperti Biarkan, Arti Sahabat dan Akhir Cinta Abadi.

Heroes adalah serial drama televisi, karya Tim Kring, yang mengudara pertama kali di NBC pada 25 September 2006. Serial ini bercerita tentang beberapa orang yang memiliki kekuatan luar biasa seperti telepati, menjelajah waktu, dan terbang. Sejak pertama kali ditayangkan serial ini menjadi program yang paling digemari dan selalu meraih rating tinggi.

source: tembang.com

Giring: Indonesia Butuh Pemimpin yang Tegas Banget


Tempo, Senin 27.10.2008

Giring Ganesha bukan nama yang asing buat penggemar musik pop. Vokalis grup musik Nidji itu sedang laris dengan lagu Laskar Pelangi. Boleh dibilang, lagu-lagu pop yang dibawakan mereka sukses di pasar musik menggapai anak-anak muda. Boleh dibilang, Giring dan Nidji sudah menjadi ikon generasi muda sekarang, bersama beberapa grup band lain.

Ternyata pengagum John Lennon dan Soekarno itu menampik pendapat bahwa kesuksesan itu membuat dia bisa meraih apa pun. "Mobil gue masih yang gue pakai waktu SMA," kata bungsu dari tiga bersaudara itu. Menurut dia, tak semua generasi muda yang populer dan meraih sukses melupakan nilai kerja kerasnya.

Tak sekadar bermain musik dan mendapat uang, ia ingin berbuat lebih besar. ”Gue ingin berbuat sesuatu untuk (kemasyhuran) bangsa ini,” kata pengagum Soekarno dan Soeharto itu. Melalui lagu, walau saat ini liriknya bertema cinta, ia ingin menyampaikan pesan-pesan seperti perdamaian, persahabatan, nasionalisme. Tentang hal ini Giring bertutur kepada wartawan Tempo Yophiandi dan fotografer Arnold Simanjuntak di Toko Buku Times, Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, Banten, Kamis lalu. Ia juga berbicara tentang kreativitas anak muda, relevansi semangat Sumpah Pemuda, dan prospek generasi muda sekarang untuk berkontribusi bagi bangsa. Berikut petikannya.

Anda berkreasi di bidang seni, sudah mempertimbangkan prospeknya dibanding bidang akademis, misalnya?

Pas saya SMA, saya lebih sering main musik. Benar-benar stand up what I believe. Sejak kecil aku memang suka dengan politik dan musik. Mempelajari politik menyenangkan.

Masih mengikuti berita sosial politik dari koran?

Masih suka, tapi tidak sesering dulu (waktu masih aktif kuliah). Kalau dulu masih sering melihat perkembangan, tapi untuk berita besar dunia saya tetap berusaha mengikuti. Seperti sekarang, Amerika lagi semrawut, sedang jatuh, sementara Cina sedang menikmati devisa yang sangat besar yang berhasil dikumpulkannya. Banyak yang melihat Cina akan berganti gonna rule the world.

Anda sedang menapaki kesuksesan, masih perlu kuliah?

I have a great fun waktu kuliah. Apa yang gue pelajari untuk hidup gue, ya, waktu kuliah. Waktu aku belajar menjadi orator, ya, waktu di (Universitas) Paramadina. Waktu itu, saya run for president (kampus—Ketua Senat). Saya baca lagi bagaimana gaya orasi Hitler, Soekarno, bagaimana membius pendengarnya.

Menurut Anda, pemimpin Indonesia yang impresif cuma Soekarno?

Soeharto juga, tapi agak dingin, ya. Setelah itu, belum ada yang seperti mereka. Sorry to say, ya.

Dalam pandangan Anda sebagai anak muda yang sukses berkarya, bagaimana kondisi bangsa ini?

Indonesia, negara kita ini, terlalu cepat demokratisnya (setelah Orde Baru runtuh). Indonesia dengan jutaan penduduknya, yang kalau ada satu pemimpinnya ngomong, terus jutaan warganya ikut, pasti bisa (cepat) maju. Ambil contoh Cina dan India. Di Cina, satu ngomong A, semua mengikuti. Kalau India kan lebih demokratis, maju, tapi ketika bicara A tidak bisa cepat, karena tersendat-sendat. Nah Indonesia, butuh pemimpin yang tegas banget.

Mesti militer?

Mungkin, tapi yang jelas pemimpin ke depan harus keras, tegas, untuk kebaikan negara dan bangsa ini. Sipil juga oke.

Bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono?

SBY... (terdiam sejenak), I like that guy. Walau tantangan kondisi sekarang berat, at least, dia mencoba berbuat sesuatu, memperbaiki kondisi bangsa ini. Dan gue nggak pernah melihat dia memperkaya dirinya.

Menurut Anda, anak-anak muda seumuran Anda melihat bangsa ini seperti apa?

Menurut gue, anak muda sekarang bermimpi saja susah, karena mereka ingin meneriakkan dan didukung pemerintahnya untuk melakukan apa pun. Ternyata tidak, karena sistem yang dihadapi ternyata carut-marut. Simpelnya begini deh, gue dulu berpikir, ketika pertama kali main musik, gue pikir royaltinya buat gue, dan mapan. Gue memaksimalkan diri untuk berkarya, tapi kenyataannya, banyak orang beli bajakan, pemerintah tidak berbuat apa pun.

Di Indonesia, anak-anak mudanya itu hebat-hebat banget, tapi masa depannya suram, karena tidak ada suatu keinginan untuk negaranya. Gue ingin band gue long term, karena ingin hidup di musik, tapi tetap saja sekarang gue masih insecure (tidak aman). Tingkat ketidakamanan finansial, keberhasilannya tinggi. Di negara mapan, yang seperti ini sudah jelas sistemnya, dihargai sebagai seniman.

Band-band kayak Slank, Iwan Fals, Dewa, Gigi, itu mereka hebat karena bisa bertahan lama. Generasi gue itu susah bermimpi, tidak aman.

Bukannya justru lebih enak, ada MTV, memasarkan musik, kontes-kontes jadi artis, ada tema yang diminati pasar, seperti cinta sekarang?

Ya, laku sih laku, tapi apa yang kita bicarakan di sini kan pop culture, yang up and down. Kita buka-bukaan saja nih ya. Kemarin band gue sempat pusing karena kita nggak tahu bagaimana caranya me-manage uang kita. Iyalah, kami anak-anak muda, tiba-tiba byar (sukses), dibiarkan begitu saja, tiba-tiba beli ini beli itu. Akhirnya kami mendapatkan solusi, menyewa konsultan finansial.

Tapi apa memang begini selera anak-anak sekarang, tentang cinta, bukan lagi soal gambaran sosial

Saya melihatnya seperti ini, musik melankolis, cinta diputusin, begitu yang laku. Menurut gue, pasarnya sebenarnya sudah capek, hidupnya sudah capek. Nyari duit saja sudah susah. Tapi gue percaya, ketika kita bicara kritik juga pasti laku, minoritas pasti beli juga.

Laskar Pelangi mengkritik tuh, tapi tetap laku banyak?

Begini, buat gue, apa yang dibuat Andrea Hirata dan Riri Riza sebuah kemarahan, tapi mereka tak menggambarkannya dengan marah-marah. Ini yang membuat gue menulis lagu itu pun dengan tidak marah-marah. Ya sudahlah, keadaan memang sudah begini, ya, at least, we grateful for it. Gue juga marah dan sedih, tapi kalau kita mikirin terpuruk terus. Mending mikir positif saja deh. Orang bilang ke gue: ”Udahlah lu ngapain sih mikirin pembajakan. Semua orang ngebajak, kok.” Tapi gue tetap berpikir positif that one day, kondisinya lebih baik. Undang-undangnya ada, tapi pengaplikasiannya juga nggak ada, ya mau bilang apa.

Orang membeli produk bajakan bukannya karena tak ada akses?

Menurut gue, memang, di beberapa daerah akses untuk mendapat kaset dan CD asli memang susah. Bahkan beberapa daerah nggak tahu mana asli dan palsu. Makanya Anda bilang enak jadi musisi--no, man! Kami juga tetap memikirkan bagaimana sebaiknya, karena kami sudah terlalu sibuk, berpikir how we can survive. Sebenarnya kami berharap pada pemerintah. Makanya yang jelas gue bakal memilih siapa pun yang memperjuangkan hak-hak warganya.

Pernah beli bajakan?

Dulu pernah, gue akui. Tapi setelah gue tahu bagaimana susahnya membuat album, karya seperti ini, gue stop.

Kalau cekak pun menghargai beli yang asli?

Ya, selain welfare, juga soal kesadaran. Tapi soal welfare itu, ya, aku pikir, selama orang sudah sejahtera, kesadaran untuk menghargai pasti lebih besar. Walau memang kalau dibiasakan gratis agak susah juga mengubah budayanya.

Dengan banyaknya korupsi anggota parlemen, misalnya, Anda masih percaya dengan pemilu?

Kondisinya meminta kita semua serba instan. Tanpa berpikir apa pun lagi. Generasi gue itu generasi yang instan, popularitas, rumah. Untuk itu mereka butuh duit. Alhamdulillah, we work very hard, kami tidak instan. Tapi, kami berpikir positif segalanya bisa membaik dengan kondisi negara yang lebih baik.

Sekarang banyak order juga buat pemilu daerah?

Nah ini, jadi musisi zaman sekarang siapa bilang enak? Waktu kemarin kami diundang, ini pertama kalinya, untuk pilkada. Di Sulawesi Selatan, empat jam dari Makassar, masuk hotel dikerubutin, sudah kurang tidur. Masuk ke panggung, aksesnya mesti lewatin ribuan orang, dijambakin, dicakarin, tapi oke, kami mesti profesional, hujan-hujanan. Kemudian disuruh ucapkan jargon, gue nggak mau. Gue bilang, gue cuma menghibur. Turun panggung, lewatin kubangan air sampai selutut, terus hujan-hujanan lagi. Dan kami satu tim tidak marah-marah, malah ketawa-tawa. Ini salah satu pengalaman terbaik kita ya hahaha.

Tahun depan banyak kampanye, mau ikut lagi?

Nggak tahu, bagaimana manajer kami (Musica). Tapi, yang bagus, menurut manajer kami, kami mesti ikut sekali (kemarin itu), karena akan bisa mengetahui bagaimana keputusannya kalau diundang lagi. Sekarang kami minimal mikir lagi kalau diundang (untuk pemilu).

Dulu orang cita-citanya jadi dokter, sekarang jadi musisi, pelawak, apa karena profesi ini mudah sukses untuk generasi sekarang?

Kalau generasi sekarang melakukan apa pun secara serius, pasti bisa sukses. Kalau zaman dulu kan nggak bisa, bisa mapan kalau jadi arsitek, dokter. Ternyata, toh bisa ditunjukkan jadi penata rambut saja bisa survive. Nah, pemerintah tinggal mendukung bahwa ini bisa diwujudkan.

Ini bukan suatu bentuk protes terhadap pendidikan? Karena tak semua, misalnya, harus menjadi arsitek, kimiawan.

Pasti masih banyak juga yang masih mau jadi arsitek, ilmuwan, seperti itu. Ada seorang teman gue perempuan, dia itu bidang studinya kimia, tapi dia menulis buat majalah sosial juga. Mudah-mudahan ketika mereka bekerja dengan pilihan mereka, mereka tidak melakukan korupsi. Gue selalu protes, dengan pendidikan seperti ini dan gue memilih musik dan bertahan dengan pilihan gue. Pendidikan formal tetap penting, tapi ketika kita percaya apa yang kita kerjakan itu baik dan berguna, kita bisa melakukannya.

Sekarang lagi pada membuat album rohani, Nidji nggak?

Wah, nggak siap kami. Teman-teman bilang, sebuah pertanggungjawaban yang besar harus kami tanggung, ketika kami bicara good deeds, perilaku yang baik, siapa harus kita sembah, tapi kami berenam masih belum seperti itu, kan artinya munafik. Menurut gue, Gigi dan Opick sudah melakukan yang terbaik. Kami sudah melakukan yang terbaik di bidang kami masing-masing. Laskar Pelangi juga kan ada unsur rohaninya, bagaimana kita harus bersyukur. Itu paling jujur yang gue rasakan.

Belajar dari Laskar Pelangi, ingin menulis lirik seperti itu lagi?

Terus terang, kami belajar banyak dari Laskar Pelangi. Gue baca semuanya, pas baca Sang Pemimpi, gue diajarkan bagaimana gue harus bersyukur. Pas baca Edensor, gue digerakkan. Andrea belajar ke Sorbonne dan gue ingin ke Inggris, itu ada festival Glassenburry, isinya band-band dahsyat. Ya, tahun depan gue berangkat. Ini mimpi gue sejak zaman dulu. Ini sebuah pembelajaran, jangan pernah berhenti bermimpi. Mimpi gue: gue ingin berbuat sesuatu untuk (kemasyhuran) bangsa ini. Gue ingin Indonesia seperti dulu lagi, berani bilang tidak pada orang lain, dan gue ingin salah satu dari jutaan orang yang mendukung itu.

Menurut Anda, musik bisa mempengaruhi mencapai itu?

Bisa banget. Ketika John Lennon bilang Imagine, dia did everything yang lu believe, dan dia menuliskannya. Kemudian dia berdiri di depan generasinya untuk membuat itu menjadi mungkin terjadi. Aku percaya musik itu bisa mempengaruhi.

Tapi, musik kita sekarang cinta-cintaan melulu?

Hehehe. Kalau di Nidji, kita menulis tentang cinta, tentang putus cinta, tapi ketika manggung, kita ingin orang melihat ada pesan lebih besar yang ingin disampaikan. Kau dan Aku bercerita tentang itu sebenarnya; Randy menulis tentang dia dan mantan cewek-nya, walaupun mereka beda agama, tapi satu untuk selamanya.

(Setiap membawakan lagu Kau dan Aku, Giring selalu membawa bendera Merah-Putih, yang dimaksudkan untuk menyampaikan pesan walau berbeda-beda tetap satu. Sementara itu, melalui lagu Arti Sahabat ia ingin menunjukkan kepada dunia arti persahabatan).

Tak ingin membuat liriknya seperti pesannya?

Pingin sih. Jujur saja, gue sudah ngomong sama Bu Acin (Musica), Bu, kami mau mulai ngomong tentang sosial. Dia bilang, sabarlah, entar ada waktunya.

Sumpah Pemuda masih relevan nggak, sih?

Masih, dengan gaya kita sekarang. Orang-orang generasi sekarang jelas beda. Dulu kan mereka bersatu untuk melawan penjajah. Sekarang kita tetap harus bersatu untuk mewujudkan sebuah negara yang kita mau, yang mewujudkan, menjamin mimpi-mimpi kita terlaksana, memperbolehkan warganya untuk meraih mimpinya.

Pernah berpikir masuk partai?

Good question... (terdiam sejenak). Aduh... di lubuk hati gue terbagi dua. Ada yang pingin, ada yang nggak. Yang pingin bicara begini, if you want to change the system, you have to inside the system. Tapi, John Lennon saja bisa change the system tanpa masuk ke dalamnya, kenapa gue nggak? So far, gue bahagia dengan begini, tidak terikat apa pun. Free say anything I want.

Pernah ditawari? Kan sekarang banyak partai merekrut artis.

So far belum. Begini ya, partai kan merekrut mereka supaya tidak perlu lagi mengeluarkan banyak biaya memperkenalkan jagoannya. Karena kan artis sudah banyak dikenal. Tapi, lucunya, akhir-akhir ini gue dapat undangan, seperti diskusi untuk Sumpah Pemuda ini.

Kuliah akan selesai?

Mudah-mudahan setelah dosen gue baca ini, dia bisa berbuat sesuatu. Tentu saja, rasanya nggak enak belum lulus (Giring angkatan 2002 di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina). Setelah lulus, rasanya bebas, tak ada utang. Sekarang gue happy, punya penghasilan, tapi ada yang nyangkut, ya tentang pendidikan ini. Masih ada sekitar empat mata kuliah yang mesti diselesaikan. Mudah-mudahan tahun depan kelar.

Kalau generasi muda sekarang berpikir soal berprofesi di bidang seni, kreativitas, kayaknya kuliah tidak perlu lagi, ya?

Wooo nggak dong. Kuliah tetap penting. Kuliah itu membuat kita berpikir secara kritis, sistematis. Kami berenam kuliah, dan serius. Makanya, secara business wise, kami tahu mana yang bagus dan tidak buat kami. Ada dasar yang kuat walau jadi apa pun nantinya. Pengalaman hidup juga perlu.

Siapa idola Anda?

Iwan Fals, begitu gamblangnya pesan dalam lirik. Gigi, membawa inspirasi bahwa dengan musiknya sendiri bisa bertahan. Slank, Bimbim pernah bilang, jangan berhenti mimpi. Mimpinya dia pelihara.

Ost. Laskar Pelangi, Giring Tak Berpikir Panjang


Mengagumi novel Laskar Pelangi, Giring 'Nidji' langsung bermimpi membuat soundtrack filmya. Tiba-tiba, Mira Lesmana menelpon dan menawarkannya. Wuih, tanpa pikir panjang, Giring langsung menerimanya. Giring pun menciptakan lagu yang berbeda.

"Sebelum mbak Mira ngajak kerjasama nulis theme song Laskar Pelangi, Gue sudah lebih dulu membaca novelnya yang dikasih sama mama. Jujur, ceritanya dahsyat. Dalam perjalanan tour luar kota, masih pagi-pagi buta, gue bilang sama teman-teman Nidji. Mereka pun terkesima,"kata Giring petang ini (05.09.08), usai berbuka puasa, di launching OST. Laskar Pelangi, di Planet Hollwood Jakarta.

Giring langsung menegaskan kepada teman-teman Nidjinya. "Pokoknya, jika ada orang yang nawarin bikin theme song Laskar Pelangi,tawaran itu harus langsung kita ambil. Pasti hasilnya bakalan bagus dan keren."

Maklum. Isi kepala Giring sudah dipenuhi bayangan seperti apa lirik dan melodi lagunya. Tetap ada warna urban music ala Nidji, tapi minimalis hanya dengan menggunakan banyak gitar akustik.

"Biar beda dengan musik Nidji selama ini. Biasanya kan, urban electrik yang riang dengan cenderung ngerock atau disko. Di Laskar Pelangi gue dan teman-teman menggarapnya minimalis sesuai lirik yang gue buat. Hasilnya jelas beda," aku Giring.

Mimpi Giring ternyata tidak sebatas angan. Tiba-tiba mbak Mira menelpon dan menawarkannya. "Kejutan yang menyenangkan. Nggak pikir apa-apa lagi, gue langsung terima tawaran itu. Tentunya didukung sama teman-teman Nidji. Ya, udah seperti apa lagu yang Nidji bawakan untuk Laskar Pelangi, dengarkan saja theme song Laskar Pelangi," tutur Giring.

info: laskarpelangithemovie

Giring Prihatin

Giring Prihatin Penyanyi Cilik Menyanyikan Makhluk Tuhan Paling Seksi

Giring ternyata tak berbangga hati, beberapa lagu ciptaannya dinyanyikan oleh para penyanyi cilik dalam beberapa kontes nyanyi di televisi. Saya prihatin dengan penyanyi cilik sekarang. Mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu yang seharusnya bukan untuk mereka, ucap vokalis kelompok Band Nidji ini, di Purwokerto, Senin (11/8) malam.

Giring bersama teman-temannya dari Band Nidji sengaja datang ke Purwokerto, untuk melepaskan dahaga para fans mereka di kota mendoan itu. Mereka tampil dalam konser bertajuk Nidji yang digelar di Gelanggang O lahraga Satria Purwokerto, dan membawakan enam lagu hits mereka. Sebelumnya, mereka juga tampil di Kota Yogyakarta dalam ajang Soundrenalin.

Sebetulnya menurut Giring, para penyanyi cilik yang tampil di televisi itu memiliki talenta yang sangat baik. Tapi kenapa yang terjadi, mereka malah menyanyikan orang dewasa, ujarnya yang memiliki nama lengkap Giring Ganesha ini. "Masak sampai ada penyanyi cilik menyanyikan lagunya Mulan, Makhluk Tuhan Paling Seksi", ucapnya lagi.

Ada kalanya, pria kelahiran Jakarta 14 Juli 1983 ini mengaku, terlintas dalam benaknya ingin menyaksikan lagi penyanyi-penyanyi cilik yang membawakan lagu sesuai usianya seperti pada tahun 1990-an. Seperti dulu kan ada Trio Kwek-Kwek, terus Melisa dan Joshua. Mereka itu kan anak-anak, tetapi membawakan lagu anak-anak juga, ujarnya.

info: kompas

Nidji: Album Religi? Berat Banget!


Kira-kira sebulan lagi Ramadhan--yang menjadi waktu yang bersahabat bagi para artis musik untuk merilis album religi--akan tiba. Tapi, Nidji, band yang sedang populer, memiliki alasan untuk tidak ikut bermain di pasar album religi.

Hal itu disampaikan oleh Giring Ganesha, vokalis Nidji, ketika berada di Malang, Jawa Timur, dalam rangka tampil bersama rekan-rekan se-Nidji-nya dalam Soundrenaline 2008, di Lapangan Rampal di kota berudara dingin tersebut, Minggu (03/08/08).

Menurut Giring, ia dan para personel lain Nidji, yaitu Rama (gitar), Ariel (gitar), Run-D (keyboard), Andro (bas), dan Adri (drum), belum pantas membuat album religi. "Tanggung jawab bikin album religi berat banget. Gue harus bertanggung jawab atas lirik yang gue bikin. Gue harus bertanggung jawab kepada Tuhan dengan apa yang sudah gue bikin," tutur Giring.

Giring cs memilih untuk membuat album "biasa" saja. "Jadi mendingan bikin album yang 'Nidji banget' saja deh. Biar band lain saja yang sudah merasa siap bertanggung jawab," ucapnya.

info: kompas